HL PEKANBARU – Di tengah maraknya keluhan masyarakat tentang kinerja aparatur lingkungan, hadir sosok Ketua RT yang patut dijadikan panutan. Namanya Sekwildi Ambo, Ketua RT 01 RW 01 Kelurahan Sialang Rampai, Kecamatan Kulim, Pekanbaru. Sudah dua tahun menjabat, namun yang membuatnya berbeda adalah caranya mengabdi tanpa mengambil sepeser pun insentif pribadi yang diberikan oleh pemerintah.
Alih-alih digunakan untuk keperluan pribadinya, seluruh dana insentif bulanan yang diperoleh Ambo selama menjabat dikumpulkan dan dipergunakan sepenuhnya untuk kepentingan warga di lingkungan tempat ia bertugas. Hingga kini, jumlahnya telah mencapai belasan juta rupiah.
“Selama saya menjabat, saya tidak pernah ambil uang insentif itu untuk pribadi. Saya pikir, lebih baik dana itu dimanfaatkan untuk kebutuhan bersama,” ujar Ambo, yang sehari-hari bekerja di sektor swasta, saat ditemui di kediamannya.
Langkah Ambo bukan tanpa alasan. Ia melihat keresahan warganya yang kerap menjadi korban pencurian. Rumah-rumah warga beberapa kali disatroni maling, menimbulkan kekhawatiran yang berlarut-larut. Berangkat dari keresahan itu, Ambo bersama pengurus RT dan RW memutuskan menggunakan dana insentif tersebut untuk membeli dan memasang CCTV di setiap sudut dan gang perumahan.
“Karena warga sudah banyak rumahnya dimasukin maling, kami berinisiatif dan ini berdasarkan persetujuan warga juga, untuk pasang CCTV di setiap gang perumahan,” kata Ambo.
Kini, kamera-kamera pengintai telah terpasang di berbagai titik strategis lingkungan RT 01 RW 01. Hasilnya terasa signifikan. Aktivitas di lingkungan permukiman kini lebih mudah dipantau dan angka kejahatan pun menurun.
Namun dedikasi Ambo tak berhenti sampai di situ. Dari dana insentif yang sama, ia juga telah merencanakan pembangunan gapura lingkungan dan pos pengamanan permanen, semua tanpa mengutip biaya dari warga. Ia teguh pada prinsipnya bahwa jabatan RT bukan ajang mencari keuntungan, tapi ladang pengabdian.
“Kalau kita diberi amanah, maka kita juga punya tanggung jawab untuk menjaga kenyamanan dan keamanan warga,” tuturnya dengan nada tegas namun rendah hati.
Langkah Sekwildi Ambo ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan pengabdian masih hidup di tengah masyarakat. Ketika banyak orang mengeluhkan kurangnya perhatian dari tokoh lingkungan, Ambo justru memberi teladan dengan aksi nyata.
Tak hanya warga yang merasa terbantu dan terlindungi, tetapi juga banyak pihak berharap agar Ketua RT se-Kota Pekanbaru bisa terinspirasi oleh langkah Ambo sebuah contoh nyata kepemimpinan dari bawah yang bersih, ikhlas, dan berorientasi pada pelayanan.
Sudah saatnya pula Pemerintah Kota Pekanbaru memberikan apresiasi atas dedikasi luar biasa ini. Sosok seperti Ambo adalah aset sosial yang langka: bukan hanya menjalankan tugas, tetapi benar-benar menghayati makna pengabdian. Dalam sunyi dan tanpa sorotan, ia bekerja untuk warga membangun kepercayaan dan menjadikan lingkungannya tempat yang lebih aman dan nyaman untuk semua.
(**)















